KETAHANAN PANGAN, untuk Negeri Bernama Indonesia

Indonesia Negeri Zamrud Khatulistiwa

Indonesia adalah negeri Zamrud Khatulistiwa yang terdiri dari ribuan gugusan kepulauan yang indah membentang. Tak kurang dari 17.000 gugusan kepulauan dengan kekayaam biodiversitas nomor dua didunia menggenapkan negeri ini. Negeri yang siap untuk dibangun dan diambil manfaat sebesar-besarnya hanya untuk kesejahteraan anak negeri ini. Tetapi negeri ini masih perlu banyak belajar bagaimana memanfaatkan kekayaannya itu. Pertumbuhan penduduk Indonesia mencapai 1,6% per tahun merupkan ancaman. Ancaman jika negeri ini tidak mampu menjamin ketahanan pangan bagi lebih dari 230 juta penduduknya

Sungguh luar biasa Allah memberikan karunia pada negeri ini, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Dikutip dari buku Bedah Terapi Pertanian Nasional  karya Dr. Ir. Iskandar Andi Nuhung, seorang pengamat asal Belanda, Hans Westernberg, mengemukakan keyakinan bahwa “Indonesia dapat menjadi negara kaya (lebih kaya dari Amerika Serikat), bila saja Indonesia menangani budi daya tanaman pangan secara besar-besaran, sungguh-sungguh dan terencana.”

Sumber daya alam Indonesia

Westernberg melanjutkan pendapatnya: sumber daya alam Indonesia masih melimpah dan masih tersedia lahan yang cukup luas. Masih ada 30,4 juta ha hutan cadangan, 6,3 juta hutan rawa-rawa, 8,1 juta ha tanah yang belum dimanfaatkan, 790 juta ha laut yang merupakan potensi yang besar dan tidak dimiliki negara lain. Sungguh luar biasa, ditambah kekayaan alam abiotik seperti sinar matahari yang melebihi solar radiation , suhu yang tidak terlalu panas, letak Indonesia di luar zona angin topan, dan iklim tropis terbaik untuk pertumbuhan tanaman.

sumber daya alam Indonesia yang melimpah dan masih tersedia

Ketahanan Pangan Indonesia

Ketahanan pangan adalah masalah yang kompleks multisektoral. Di dalamnya terangkum banyak pihak untuk saling menyesuaikan rencana strategi dan rencana kerja untuk mencapai tujuan ketahanan pangan Indonesia 2025. Dalam Peraturan Pemerintah tentang Ketahanan Pangan Nomor 68 Tahun 2002 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Dari pengertian ini, perihal ketahanan pangan bukan hanya tentang bagaimana memproduksi pangan melainkan juga bagaimana pangan yang diproduksi sampai dan cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.

790 juta ha laut yang merupakan potensi yang besar dan tidak dimiliki negara lain

Fokus kerja pada bidang pertanian kini bukan lagi pekerjaan negara dengan basis pertanian saja. Bahkan negara dengan basis industri dan teknologi juga harus mengembangkan pertanian. Jerman contohnya. Pada prakata buku Geografi Pedesaan yang disusun atas kerjasama Yayasan Obor Indonesia dengan Menteri Urusan Bahan Pangan Jerman, Dr.Weiser mengatakan, “tugas utama kita adalah pengadaan bahan pangan yang berlimpah ruah untuk pertumbuhan penduduk dunia. Untuk melaksanakan tugas tersebut maka pendidikan pertanian harus dibenahi.”

Weiser mengatakan hal tersebut sejak Tahun 1986 ketika populasi penduduk dunia masih sekitar 4,5 miliar jiwa, sedangkan kini dalam kurun waktu 25 tahun populasi penduduk dunia bertambah menjadi sekitar 6 miliar jiwa. Pertumbuhan penduduk menjadi ancaman besar jika pertanian di dunia, dan khususnya Indonesia, tidak dikelola dengan benar.

Perlunya Metode ATM, Amati Tiru dan Modifikasi

Perlunya suatu metode yaitu teknik ATM kepada bangsa Jepang. ATM berarti amati, tiru dan modifikasi. Masyarakat dunia melihat Jepang sebagai salah satu negara yang harus diperhitungkan dikancah dunia. Mari kita lihat sejarah Indonesia dan Jepang, Jepang justru mendapat musibah besar. Mereka kalah perang, diblokade, serta dijatuhi bom atom di Hirosima dan Nagasaki yang menelan kerugian yang amat besar. Pada saat Indonesia memiliki peluang untuk menjadi ‘macan Asia’ karena kekayaannya, yang terjadi justru kita terlena dengan kekayaan itu. Hasilnya? Kini kita tertinggal jauh di belakang  Jepang. Jepang malah bangkit sebagai negara modern yang unggul dibidang teknologi.

Upaya ketahanan pangan daerah berbasis potensi lokal adalah salah satu solusi logis. Berdasarkan pengertian otonomi daerah, setiap daerah dapat berkembang dan mengembangkan diri seluas-luasnya berdasarkan ciri khas masing-masing. Dengan otonomi ini diharapkan setiap daerah dapat menjamin ketahanan pangannya masing-masing pemanfaatan potensi pangan lokal setiap wilayah.

Nilai PPH (pola pangan harapan) nasional sempat meningkat ditahun 2007 sebesar 82,8 namun kembali turun menjadi 75,7 di tahun 2009. Berdasarkan evaluasi, periode 2005-2009 pertumbuhan PPH Nasional sebesar -0,88%. Hal tersebut dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah yang masih condong ke beras. Perhatian terhadap riset pertanian masih lebih banyak mengedepankan beras sebagai topik utama.  Dengan usaha yang ulet dan serius seluruh pihak terkait, tujuan utama penganekaragaman pangan –yakni perbaikan kualitas sumber daya manusia dan pelestarian alam—dapat terwujud suatu hari nanti yang ditandai dengan meningkatnya Human Development Indeks Indonesia. Berangkat dari ketahanan pangan yang mapan dan SDM pembangun negeri yang berkualitas, Indonesia akan siap bersaing di kancah Internasional menghadapi tantangan Global.

Sumber Pustaka:

Suci Latifah.2010. Belajar Merawat Indonesia. Bogor. Domper Dhuafa.

Amal, Ichlasul dan Armaidy Armawi.1998. Regionalisme, Nasionalisme dan Ketahanan Nasional. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.