Keuntungan atas nama Pegiat Sosial

Memberi batas antara ‘pekerja’ dan pegiat social.

Pernah ada seorang teman yang bilang bahwa 90% lebih dari pegiat social pasti memiliki kepentingan. Entah itu finansial, politik, popularitas atau yang lainnya. Saat itu (aku yang masih polos) jelas jelas tidak setuju dengan statementnya. Lalu dia bilang, “aku percaya kamu dan komunitasmu tergolong 10% sisanya kak”. Tapi kemudian kenyataan mengantarkanku pada fakta bahwa pernyataan awal dia memang benar. Menjumpai manusia manusia yang ‘menunggangi’ komunitas dengan atas nama kegiatan social, pergerakan pemuda, dan lain sebagainya. lunturnya idealisme seiring dengan kebutuhan perut manusia yang semakin tinggi. Mencari nafkah dengan atas nama kegiatan social. Menjaga frekuensi antar sesama anggota untuk tetap berjalan dalam cita cita bersama disuatu komunitas itu memang butuh perjuangan. Bukan diperjuangkan hanya oleh satu sisi. dan seharusnya bukan pula ada pihak yang merasa lebih memiliki. Lalu apa yang harus dilakukan jika memang sudah demikian? Saling introspeksi, menurunkan ego masing- masing pihak, menghiLangkan perasaan ‘lebih memiliki’ dan mengembalikan pada program utama yang riil –yang tanpa embel embel keuntungan finansial-.

Ada 2 tipe pegiat sosial

yang pertama memisahkan mana yang menguntungkan untuknya (punya pekerjaan) dan mana yang kegiatan sosial. Jadi dia tau kapan waktunya mencari nafkah untuk keluarga, dan kapan saatnya dia melakukan kegiatan untuk kebermanfaatan banyak orang. Dia tahu mana duit untuk keluarganya dan mana yang untuk ummat.

Yang kedua adalah tipe orang yang mencari nafkah melalui kegiatan sosialnya, dia tak tahu batasan mana yang kepentingan pribadi dan mana yang kepentingan bersama, dengan dalih ‘sambil menyelam minum air’. Tipe kedua ini bukan hanya mencampurkan dua kepentingan, bahkan dibeberapa kasus mereka mencari keuntungan dengan mengatasnamakan sosial. Aku yakin masih banyak orang baik disekitar kita, manusia manusia yang dengan akal sehat dan nuraninya yang memang peduli dengan kondisi dilingkungannya. Hidup tidak hanya untuk dirinya sendiri, tidak hanya untuk memikirkan urusan perut. Dan masih banyak orang baik yang mampu memberi batas mana saatnya bekerja, berkarya dan mana saatnya berperan jadi pegiat social.  

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.